Home >Unlabelled > Aku Pernah Datang dan Aku Sangat Patuh
Aku Pernah Datang dan Aku Sangat Patuh
Posted on Selasa, 24 November 2015 by Admin Indowarta
Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu dan polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah aku pernah datang dan aku sangat penurut. Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.
Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat di mana papanya m
... baca selengkapnya di Aku Pernah Datang dan Aku Sangat Patuh Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
Statistik Hari Ini
Populer
-
Ada pendapat yang mengatakan sukses adalah sebuah perjalanan. Ada juga pendapat lain yang mengatakan, bila Anda sukses maka Anda pasti baha...
-
Namaku Nur, Aku mempunyai Sahabat yang bernama Aini, Kita bersahabat dari kita kecil, semua rasa sudah kita lalui bersama, manis, pahit hidu...
-
Oleh: Herry Prasetyo Hari-hari terakhir ini, kita disibukkan dengan perhatian terhadap teror. Banyak hal diperbincangkan, dianalisis, dikup...
Artikel Terkait
Arsip
-
▼
2015
(19)
-
▼
November
(10)
- Latihan 1.500 Kali
- Aku Pernah Datang dan Aku Sangat Patuh
- Teater Nahkoda
- Memperbaiki Boneka
- Mengunjungi Kampung Halaman Almarhum Ayah
- Kesederhanaan Sebuah Cita-Cita
- Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
- Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
- Keuntungan dari Kompetisi Sepakbola Dunia di Jerman
- Sukses Dengan Bertindak Cepat
-
▼
November
(10)
