Home >Unlabelled > Kesederhanaan Sebuah Cita-Cita
Kesederhanaan Sebuah Cita-Cita
Posted on Jumat, 13 November 2015 by Admin Indowarta
Sore yang indah, ditemani oleh bunyi ombak dan semilir angin yang kian beriringan dengan suara daun kelapa yang tak mau berhenti untuk melambai. Suasana tenang disini setidaknya dapat mengurangi rasa penatku. Kudengar decitan kursi roda yang makin lama kian mendakatiku. Kulihat sosok yang memang akhir-akhir ini sering bersamaku di tempat ini. Aku sangat bingung jika melihat ekspresi wajahnya terkadang dia terlihat sangat tenang dan terkadang dia terlihat datar.
“Apa hari ini kau baik-baik saja?” tanyaku padanya karena memang dia adalah sosok yang sangat sulit ditebak, bukannya jawaban yang kudapat tapi hanya senyum kecil yang mengembang di bibirnya. Aku semakin bingung dengan semua tingkahnya, sangat aneh bagiku karena memang dia sosok yang pendiam tak banyak kata yang dia lontarkan untukku.
“Disini sangat tenang, aku menyukainya” ucapku menceracau sendiri, inilah kebiasaanku setiap bertemu dengannya meskipun tak ada satupun respon darinya tapi aku tahu bahwa dia mendengarkanku dan mengerti apa yang ku mau.
“Hari ini sama seperti hari-hariku sebelumnya, tak ada yang istimewa ataupun terkesan semuanya sama dan kau tau bukan hariku selalu berakhir disini bersama senja, berakhir dengan gambar-gambar yang hanya bisa menemani sesaat” ucapku padanya, dia menoleh dan tersenyum padaku.
“Mengapa kau selalu berkata bahwa hari ini selalu sama seperti hari kemarin?” ujarn
... baca selengkapnya di Kesederhanaan Sebuah Cita-Cita Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
Statistik Hari Ini
Populer
-
Ada pendapat yang mengatakan sukses adalah sebuah perjalanan. Ada juga pendapat lain yang mengatakan, bila Anda sukses maka Anda pasti baha...
-
Namaku Nur, Aku mempunyai Sahabat yang bernama Aini, Kita bersahabat dari kita kecil, semua rasa sudah kita lalui bersama, manis, pahit hidu...
-
Oleh: Herry Prasetyo Hari-hari terakhir ini, kita disibukkan dengan perhatian terhadap teror. Banyak hal diperbincangkan, dianalisis, dikup...
Artikel Terkait
Arsip
-
▼
2015
(19)
-
▼
November
(10)
- Latihan 1.500 Kali
- Aku Pernah Datang dan Aku Sangat Patuh
- Teater Nahkoda
- Memperbaiki Boneka
- Mengunjungi Kampung Halaman Almarhum Ayah
- Kesederhanaan Sebuah Cita-Cita
- Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
- Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
- Keuntungan dari Kompetisi Sepakbola Dunia di Jerman
- Sukses Dengan Bertindak Cepat
-
▼
November
(10)
